Pesta Kesenian Bali 2020

Pemerintah Provinsi Bali mengumumkan peniadaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-42 tahun 2020 menyusul penyebaran virus Corona (Covid-19) di Indonesia, khususnya di Pulau Dewata yang masih luas.

Pesta kesenian rakyat terbesar yang ditunggu-tunggu masyarakat Bali maupun wisatawan mancanegara itu sedianya diselenggarakan pada 13 Juni-11 Juli 2020. Tahun depan, program tahunan pemerintah Bali itu baru kembali diadakan.

“Ini memang keputusan yang tidak mudah, Bapak Gubernur (Wayan Koster) setelah berdiskusi dengan bupati/wali kota se-Bali dan Ketua DPRD sepakat untuk meniadakan Pekan Kesenian Bali (PKB) ke-42 tahun ini,” kata I Wayan ‘Kun’ Adnyana, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Selasa (31/3), melansir Kompas.com.

Pemberitahuan peniadaan PKB 2020 tertuang dalam surat Gubernur Bali Nomor 430/3287/Sekret/DISBUD tertanggal 31 Maret 2020 yang ditujukan kepada Bupati/Wali Kota se-Bali.

Gubernur Koster meminta masyarakat Bali untuk memaklumi keputusan tersebut. Tahun depan, ia berjanji akan melaksanakan PKB secara lebih meriah.

PKB merupakan salah satu festival terlama di Indonesia. Pertama kali diadakan 42 tahun silam tepatnya tahun 1978 oleh Gubernur Bali Ida Bagus Mantra.

Gagasan dasar PKB adalah pesta rakyat untuk mementaskan berbagai hasil karya cipta, seni, dan aspirasi berkesenian baik kesenian hasil rekonstruksi, seni hasil inovasi, atraksi kesenian serta apresiasi seni dan budaya masyarakat Bali.

Seperti program kesenian lainnya, PKB membutuhkan tahapan produksi hingga eksibisi. Program ini diselenggarakan secara berjenjang mulai dari tingkat kabupaten/kota.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan 'Kun' Adnyana. -Dok. baliexpress.jawapos.com
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan ‘Kun’ Adnyana. -Dok. baliexpress.jawapos.com

Tidak Dapat Diundur

Kun Adnyana menerangkan, sebetulnya program ini dapat diundur sebagaimana acara-acara kesenian lainnya di Indonesia. Namun karena pesta ini melibatkan juga para pelajar, maka tidak dapat diundur, lantaran bertabrakan dengan agenda sekolah.

Diadakan selama bulan Juni hingga Juli dimaksukan agar anak-anak sekolah, yang juga menjadi peserta penting dalam pesta ini, dapat terlibat karena bertepatan dengan liburan sekolah.

Kalaupun dapat diundur, juga akan berbenturan pula dengan agenda kesenian pemerintah yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober, yaitu Festival Bali Jani. Jika tetap dipaksakan, maka banyak program kesenian lain pun diundur.

“Sempat diperbincangkan untuk mengundur PKB, tetapi kalau mundur, kan banyak lomba yang melibatkan peserta didik,” katanya.

Akademisi ISI Denpasar itu menambahkan, ada dua pertimbagan terkait peniadaan PKB 2020. Pertama, terkait adanya arahan dan kebijakan Presiden Joko Widodo agar pemerintah daerah fokus dalam pencegahan dan penanganan Covid-19.

Pertimbangan kedua adalah terkait ketidakpastian meredanya pandemi Covid-19, sementara pelaksanaan PKB sangat dekat dari batas waktu masa tanggap darurat nasional atas penyebaran Covid-19, 29 Mei 2020.

Dengan pertimbangan terebut, hampir pasti persiapan dan pelaksanaan PKB 2020 tidak maksimal, sehingga dapat mengurangi kemeriahan dan esensi acara.

“Dengan mempertimbangkan hal tersebut dan masukan lisan dari bupati/wali kota, Gubernur Wayan Koster menyetujui untuk meniadakan penyelenggaraan PKB ke-42 tahun ini,” tutur seniman Bali tersebut.

Atma Kerthi

PKB 2020 sebenarnya mengusung tema “Atma Kerthi: Penyucian Jiwa Paripurna”. Tema ini memiliki makna yang diselaraskan dengan tema PKB sebelumnya, yaitu “Akasacara: Menjelajah Angkasa, Membangun Dunia Maya”.

Pengaplikasian dan sinergi kedua tema ini nantinya akan diwujudkan melalui berbagai event selama PKB 2020, salah satunya yakni pawai pembukaan atau Peed Agung.

Dalam sejarahnya, PKB secara filosofis juga menjadi media dan sarana memotivasi masyarakat untuk menggali, menemukan, dan menampilkan seni budaya serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

PKB menjadi pesta rakyat terlama karena menghabiskan waktu dua bulan. Namun belakangan durasinya baru berkurang menjadi satu bulan.

Pesta seni rakyat ini pada umumnya selalu dibuka oleh pejabat tinggi negara, baik oleh Menteri, Wakil Presiden, Presiden dan bahkan Ibu Negara. Pada PKB 2019, Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana berkesempatan menghadiri pawai pembukaan.

Presiden Jokowi saat itu memakai baju adat Bali berwarna coklat, dipadukan dengan udeng, saput dan kamen berwarna ungu serta Ibu Negara Iriana yang mengenakan kebaya khas Bali berwarna oranye.

Tinggalkan Balasan